Dari Underconsumption ke Suaraga: Juli 2026, Anak Muda Pilih Hidup ‘Cukup’ dan Sadar Diri

Dari Underconsumption ke Suaraga: Juli 2026, Anak Muda Pilih Hidup 'Cukup' dan Sadar Diri

Pernah nggak sih lo ngerasa capek banget lihat feed Instagram yang serba sempurna? Atau lo malah ngerasa lega pas tau ada orang lain yang juga masih pake baju 5 tahun lalu?

Gue mau cerita sesuatu. Juli 2026 ini, ada dua hal yang kelihatannya beda—Underconsumption Core sama Suaraga Fest—tapi sebenernya mereka itu satu gerakan besar. Intinya? Anak muda Indonesia lagi milih buat mundur selangkah. Nggak maksa. Nggak ikut-ikutan. Cukup.

Dan rasanya? Lega banget.


Underconsumption Core: Ketika “Nggak Beli” Jadi Tindakan Berani

Lo pasti udah sering liat konten di TikTok tentang orang yang pake baju sampe bolong, skincare dipake sampe abis, atau dompet udah 10 tahun masih dipake. Itu namanya Underconsumption Core .

Mulai populer sejak 2024, tren ini sebenernya reaksi terhadap budaya konsumtif yang selama ini kita santap setiap hari dari media sosial . Kalo dulu orang berlomba-lomba beli barang baru biar keliatan keren, sekarang anak muda justru bangga bisa pake barang lama lebih lama .

Peneliti lingkungan Isaias Hernandez bilang, kebiasaan pake barang bekas sebenarnya bukan hal baru—tapi kembali populer karena anak muda mulai sadar dampak konsumsi berlebihan terhadap lingkungan . Belum lagi faktor ekonomi. Perencana keuangan Richard Carr nambahin, biaya hidup yang makin tinggi bikin Gen Z lebih selektif ngatur pengeluaran .

Yang menarik, Underconsumption Core beda sama minimalis. Kalo minimalis sering dikaitkan sama tampilan estetis tertentu, Underconsumption Core lebih fokus ke fungsi dan pemanfaatan barang yang udah dimiliki . Nggak ada tuntutan harus punya barang tertentu—lo cuma diajak pake barang secara bijak.

Salah satu mahasiswa di Yogyakarta, Nadya Lestari, ngaku mulai nerapin ini. “Sekarang saya lebih memilih memakai barang yang masih bagus daripada membeli baru hanya karena ikut tren,” katanya .

Ini bukan cuma soal hemat. Ini soal keberanian. Keberanian buat nggak ikut-ikutan tren. Keberanian buat ngakui kalo lo udah cukup.

Suaraga: Festival Bukan Sekadar Nonton Musik

Sekarang kita loncat ke sisi lain dari koin ini: Suaraga Fest.

Tanggal 4-5 Juli 2026, Taman Balekambang, Solo, bakal jadi saksi lahirnya inisiatif kreatif baru bernama Suaraga . Ini hasil kolaborasi tiga entitas kreatif gede: Vindes Corp, Boss Creator (yang juga punya Pestapora), dan Mad Haus (punya MALIQ & D’Essentials) .

Tapi Suaraga bukan festival musik biasa. Konsepnya ngangkat tren self-care dan wellness—mau ngasih pengalaman yang deket sama kesehatan mental, koneksi sosial, dan kreativitas komunitas . Mereka sadar, masyarakat modern butuh ruang buat bergerak, berekspresi, sekaligus nemuin ketenangan di tengah hidup yang serba cepat .

Suaraga menggabungkan tiga elemen:

  • Suara: deretan musisi kayak ALI, Fanny Soegi, Silampukau, SORE, Nadhif Basalamah, sampe UCUPOP . Ditambah seni tradisional kayak gamelan keroncong, wayang kulit, wayang orang, sampe primbon .
  • Karya: pendekatan visual dan artistik yang terinspirasi identitas budaya Solo, dipadukan sama kultur lokal .
  • Raga: aktivitas kebugaran dan interaksi komunitas yang inklusif—mulai dari yoga, mat pilates, sampe SKJ .

Yang bikin keren, mereka juga ngadain pre-event kayak Mlaku Santai (jalan santai) dan Pit-Pitan (city cycling) buat nikmatin Solo dengan cara yang lebih santai . Harganya mulai Rp150.000 buat tiket harian. Terjangkau banget kan?

Wali Kota Solo Respati Ardi bahkan nyebut konsep ini sebagai ‘Solo Living’ . “Kita cukup bersyukur kemarin kita mendapatkan apresiasi bahwa kita mengalahkan Yogyakarta sebagai kota beristirahat, kota pensiunan,” katanya .

Dua Tren, Satu Nadi

Nah, ini yang mau gue tekankan. Underconsumption Core dan Suaraga Fest itu nggak terpisah. Keduanya lahir dari keresahan yang sama: kita capek sama hidup yang serba cepat dan konsumtif.

Slow Living: Jiwa dari Keduanya

Konsep slow living—hidup dengan kesadaran, menikmati proses, nggak terburu-buru—lagi naik daun banget di 2026 . Ini bukan cuma soal santai, tapi soal menentukan prioritas dan menjalani hidup dengan lebih sadar .

Radius Setiyawan, Wakil Rektor 4 Universitas Muhammadiyah Surabaya, jelasin kalo slow living adalah bentuk resistensi terhadap pola hidup yang terlalu cepat . Dia bahkan ngutip cerpen Seno Gumira Ajidarma buat gambarin realitas kota besar:

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin” .

Nah, di 2026 ini, anak muda mulai sadar: hidup nggak harus kayak mesin. Mereka mulai milih soft living—tetap di kota, tetap kerja, tetap punya target, tapi dengan batasan yang jelas . Pulang tepat waktu bukan tanda malas, tapi tanda waras. Orang mulai berani bilang, “aku cukup segini” .

Bahkan ada tren digital minimalism—HP disetel mode abu-abu, notifikasi dimatikan, screen time dipantau . Sosial media masih ada, tapi nggak lagi jadi pusat hidup. Offline adalah kemewahan baru .

Terus, Apa Hubungannya?

Underconsumption Core adalah manifestasi slow living di ranah konsumsi. Lo nggak buru-buru beli barang baru, lo pake yang udah ada sampe habis.

Suaraga Fest adalah manifestasi slow living di ranah hiburan dan komunitas. Lo nggak cuma dateng, nonton, pulang—lo ikut aktivitas yang mindful, berkesan, dan terhubung sama orang lain.

Dan yang paling penting: keduanya nggak nuntut lo jadi sempurna. Di Underconsumption Core, lo nggak harus punya rumah minimalis kayak di majalah. Di Suaraga Fest, lo nggak harus pake outfit aesthetic atau foto-foto buat feed.

Intinya adalah kehadiran dan kesadaran, bukan pencitraan.

Tips Praktis: Jadi Sadar Diri di 2026

Lo bisa mulai dari hal-hal kecil. Gini caranya.

1. Mulai Dari Satu Barang

Pilih satu barang yang lo pake sehari-hari—tas, jaket, atau botol minum. Komitmen buat pake sampe bener-bener rusak atau habis. Kalo udah kebiasaan, lanjut ke barang lain. Pelan-pelan, nggak usah buru-buru .

2. Coba Thrift Shopping

Beli baju bekas itu bukan cuma hemat, tapi juga ramah lingkungan. Di 2026, thrifting naik kelas—bukan karena murah, tapi karena punya cerita .

3. Kurangi Screen Time, Perbanyak “Momen Nyata”

Coba deh, seminggu sekali, matiin notifikasi HP selama 1-2 jam. Atau ikut aktivitas offline kayak Mlaku Santai di kota lo . Atau cuma duduk di taman, liatin orang lewat, tanpa HP. Rasanya aneh di awal, tapi ntar lo bakal ngerasa lebih tenang.

4. Ikut Festival Yang “Bermakna”

Kalo lo ke festival, pilih yang nggak cuma kasih hiburan, tapi juga pengalaman. Suaraga Fest, misalnya, ngajak lo yoga pagi, jalan santai, atau ikut diskusi—bukan cuma nonton musik terus pulang . Cari event yang bikin lo terhubung sama komunitas dan budaya lokal.

5. “Repair, Not Replace”

Kalo barang lo rusak, jangan langsung beli baru. Coba perbaiki dulu. Ini tren yang makin populer—orang mulai sadar kalo memperbaiki barang lebih bermakna daripada ganti terus-menerus .

Kesalahan yang Sering Terjadi

1. Menganggap Underconsumption = Pelit

Ini salah kaprah. Underconsumption Core itu tentang pilihan sadar, bukan keterpaksaan. Kalo lo nggak beli barang karena nggak punya duit, itu kondisi. Kalo lo milih nggak beli karena sadar nggak perlu, itu tren. Bedanya tipis tapi penting .

2. Slow Living = Males

Nggak. Slow living bukan berarti lo nggak produktif. Ini tentang produktivitas yang bermakna, bukan sekadar sibuk. Lo tetep bisa kerja keras, tapi lo juga kasih ruang buat istirahat dan menikmati hidup .

3. Festival Cuma Buat Hiburan

Suaraga ngajarin kita kalo festival bisa lebih dari sekadar hiburan. Bisa jadi ruang buat belajar, berkoneksi, dan merawat diri . Kalo lo ke festival cuma buat foto-foto dan ngejar line-up, lo kehilangan esensinya.

Intinya: Sadar Diri Itu Keren

Gue tau, kadang kita pengen semuanya instan dan sempurna. Tapi 2026 ngajarin kita sesuatu yang beda: keberanian untuk cukup. Berani pake baju lama sampe lusuh. Berani nggak ikut-ikutan tren. Berani ke festival tanpa harus aesthetic. Berani bilang “aku cukup segini.”

Underconsumption Core dan Suaraga Fest adalah dua wujud dari keberanian itu. Dan lo nggak harus milih salah satu—lo bisa terapkan keduanya dalam hidup sehari-hari. Karena pada akhirnya, ini bukan tentang tren. Ini tentang hidup yang lebih sadar, lebih bermakna, dan lebih tenang.

Dan yang paling penting: lo nggak perlu jadi sempurna buat menjalaninya. Cukup mulai dari satu langkah kecil. Nanti, pelan-pelan, lo bakal ngerasa bedanya.

Di 2026, self-worth dibangun dari kejujuran, bukan tepuk tangan .