Pernah nggak sih kamu tiba-tiba checkout keranjang belanja jam 1 malam? Padahal cuma mau scroll bentar. Terus besoknya lihat saldo, langsung jantung berdegup kencang. Haha, gue juga pernah kok.
Tapi 2026 ini, anak muda mulai sadar. Gaya hidup Gen Z sekarang bukan cuma soal borong diskon atau ikut-ikut tren. Ada keseimbangan baru yang lebih… waras. Self-care, produktif, dan belanja cerdas bisa jalan bareng. Ini ceritanya.
“Love Yourself First”: Self-Care yang Nggak Bikin Boncos
Di 2026, konsep “love yourself first” lagi meledak di mana-mana. Tapi ini beda dari dulu. Dulu mungkin self-care identik dengan liburan mahal atau beli barang branded. Sekarang? Ini tentang prioritas. 56,3% anak muda memilih “happy consumption” alias belanja untuk kebahagiaan, naik 16,2% dari tahun sebelumnya . Mereka lebih milih pengalaman daripada barang.
Kasus 1: Tata, 24 tahun, content creator. Dulu dia sering ikut-ikut temen beli skincare mahal cuma karena viral. “Sekarang gue pilih skincare yang beneran cocok sama kulit, bukan yang lagi rame di TikTok. Ujung-ujungnya lebih hemat dan kulit juga makin sehat,” katanya. Ini contoh conscious consumption yang makin umum.
Kasus 2: Bima, 26 tahun, karyawan swasta. “Gue dulu tiap minggu nongkrong di kafe aesthetic buat update status. Sekarang gue lebih milih bikin kopi sendiri di rumah. Rasanya lebih rileks dan dompet juga lebih aman,” ujarnya. Ini yang disebut downgrade lifestyle—bukan karena terpaksa, tapi pilihan sadar .
Kasus 3: Sari, 23 tahun, fresh graduate. Sari stres cari kerja dan jadi suka belanja impulsif. “Gue mulai sadar kalau belanja cuma bikin bahagia 5 menit. Sekarang gue ganti dengan journaling atau olahraga. Lebih murah dan efeknya lebih lama,” ceritanya .
“Underconsumption Core”: Tren Anti-Konsumtif yang Justru Keren
Nah, ini yang lagi viral banget di TikTok 2026. Underconsumption Core. Intinya? Pakai barang sampai habis. Perbaiki yang rusak. Beli sesuai kebutuhan, bukan keinginan . Ini kebalikan dari konten haul atau unboxing yang dulu merajalela.
Data menarik: Setidaknya 64% Gen Z di Indonesia mengalami stres finansial, dipicu kenaikan biaya hidup, ketidakpastian kerja, dan harga properti yang nggak masuk akal . Akibatnya, banyak yang kehilangan harapan beli rumah dan justru beralih ke belanja impulsif sebagai pelarian. Ini namanya doom spending .
Tapi di sisi lain, justru dari keputusasaan ini lahir gerakan perlawanan: underconsumption core. Anak muda mulai bangga bisa pakai baju yang sama selama 5 tahun. Bangga kalau skincare-nya habis sebelum beli baru. Ini bukan pelit, ini strategi bertahan .
“Little Treat Culture”: Self-Reward yang Harus Dikontrol
Di satu sisi kita hemat, di sisi lain kita juga tetap ingin memanjakan diri. Masuklah little treat culture: membeli hal-hal kecil sebagai hadiah untuk diri sendiri . Secangkir kopi premium setelah rapat panjang. Lip balm baru setelah dapat gaji. Sepatu baru setelah berhasil target kerja.
Ini sebenarnya wajar. Psikolog menyebut ini bagian dari lipstick effect—kecenderungan membeli barang kecil untuk menjaga suasana hati di tengah tekanan ekonomi . Masalahnya? Kalau nggak dikontrol, “little treat” bisa jadi kebiasaan mahal. Satu latte berubah jadi croissant, ditambah parfum mini, ditambah tote bag dari counter. Eh, ujung-ujungnya saldo habis .
Kesalahan Umum yang Sering Terjadi
- Self-care = selalu belanja. Ini paling sering. Banyak yang merasa “berhak” dapat hadiah tiap minggu. Padahal self-care sejati itu nggak selalu butuh uang. Istirahat, meditasi, atau quality time sama keluarga juga self-care .
- Terlalu ekstrem hemat. Di sisi lain, ada yang merasa bersalah kalau beli sesuatu yang “nggak penting”. Ini juga nggak sehat. Underconsumption bukan berarti hidup sengsara. Ini tentang proporsi .
- Ikut tren tanpa riset. “Harus punya ini soalnya viral!” Bahaya. Banyak yang terjebak FOMO dan beli barang nggak berguna. Padahal, prinsip underconsumption core adalah beli sesuai kebutuhan .
Tips Actionable: Jadi Gen Z Sadar Diri
- Tanyakan “Butuh atau Mau?” Sebelum klik checkout, tahan 3 hari. Masukkan ke keranjang, tunggu. Kalau setelah 3 hari masih kepikiran dan emang berguna, baru beli. Cara ini efektif banget buat mengurangi pembelian impulsif .
- Budgeting ala Gen Z. Bagi pengeluaran: 50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan. Sisanya untuk “little treat” yang dikontrol. Self-care dan menabung bisa berjalan bareng, kok .
- Cari alternatif self-care gratisan. Healing nggak harus ke Bali. Olahraga di taman, baca buku, atau masak bareng teman juga bisa jadi “me time” yang berkualitas. Dan gratis! .
- Komunitas itu penting. Banyak komunitas yang mengajak hidup lebih sederhana, dari grup zero waste sampai underconsumption challenge di TikTok. Ikutan biar nggak sendirian.
Kesimpulan
Gen Z di 2026 adalah generasi yang sadar diri. Mereka nggak cuma borong diskon, tapi juga paham pentingnya self-care dan produktivitas. Ini tentang keseimbangan. Antara “love yourself first” yang sehat , underconsumption core yang anti-konsumtif , dan little treat yang terkontrol .
Ini bukan hidup pelit atau hidup boros. Ini tentang pilihan sadar: gue yang kontrol dompet gue, bukan tren yang kontrol gue. Dan buat gue, itu lebih keren daripada koleksi tas branded mana pun.
